PENGALAMAN BERSAMA KELOMPOK TANI

May 28, 2008 at 7:39 am 2 comments

PENGALAMANKU BERSAMA KELOMPOK TANI

Sudah menjadi tugasku bersama tim untuk terjun langsung ke sasaran yaitu memberikan presentasi dan sosialisasi ke para petani. Dalam hal ini adalah sosialisasi “POC – BSA” (Pupuk Organik Cair – Bio Super Active) ke kelompok tani – kelompok tani.

“SUKA – DUKA” aku alami, selama berkecimpung di dunia yang aku sukai itu. Seperti halnya melihat hijaunya tanaman, melihat hamparan padi laksana karpet, suasana yang tenteram karena melihat pemandangan yang lepas, juga suasana yang terhindar dari hiruk-pikuknya keramaian, semua yang terlihat adalah hamparan padi, hamparan padi yang segar dan menguning menunggu di panen. “SUBHANAALLAH”. Itu semua sedikit dari gambaran awal, “SUKA”nya bila berkecimpung di dunia pertanian.. Dan “DUKA”nya adalah bila pemandangan yang terjadi menjadi sebaliknya, yaitu bila hamparan padi – hamparan padi yang terlihat kering sebelum waktunya karena terserang hama dan penyakit. Apalagi bila lahan pertanian mereka terendam banjir. Mereka terpaksa mengulang dari awal lagi yaitu mulai dari pengolahan tanah sampai dengan penanaman. Tentu saja ini suatu kerugian yang sangat besar, namanya menjadi musibah “INNALILLAHI WAINAILLAHI ROJIUN”. Dan musibah ini mampir di Kabupaten Karawang pada saat awal-awal bulan tahun 2008. sungguh sangat memprihatinkan.

Sebenarnya yang akan aku ceritakan disini adalah perilaku-perilaku para petani dalam menerima masukan teknologi ataupun inovasi-inovasi baru. Diawali dengan aku menjejakan kaki ke Kabupaten KARAWANG. Sebagian besar Kecamatan di Kabupaten KARAWANG aku datangi untuk dapat bertemu dengan kelompok tani – kelompok tani tersebut. Tentu saja ada tata karma atau kode etik untuk dapat menembus pasar di Karawang tersebut. Dari bertemu dengan pejabat terasnya hingga ke PPL. Ini dibutuhkan karena supaya aku dapat dengan leluasa masuk sampai ke pelosok-pelosok Kabupaten Karawang. Artinya “Kulo Nuwun” dulu lah.

Hampir selama 1 tahun aku berkeliling ke Kecamatan – Kecamatan di Karawang dalam memberikan “Presentasi dan Sosialisasi” “POC – BSA” tersebut. Bekerja sama dengan PPL setempat untuk membuat “DEMPLOT” (Demonstrasi Plot) yang dapat dijadikan sebagai percontohan ataupun percobaan bagi para petani tersebut. Agar mereka dapat melihat hasil secara nyata dari DEMPLOT tersebut. Dan nantinya dapat diterapkan ke lahan pertanian mereka. Tentu saja harus ada hasil yang signifikan , agar mereka percaya, yakin dan mau menggunakan produk “POC – BSA” tersebut. Kembali ke peri laku para petani , secara garis besar perilaku petani dapat dilihat dari :

1. Bagaimana mereka dalam menerima teknologi yang baru. Apakah mereka mau menerima masukan – masukan dalam tata cara atau tata laksana bertani yang baik dan benar. Yaitu mulai dari cara pengolahan tanah yang baik, juga bagaimana cara menanam , memupuk, panen dan penanganan pasca panennya. Sampai pada pengenalan produk-produk baru baik itu benih, pupuk, maupun obat-obatannya.

2. Bagaimana perilaku para petani dalam menyelamatkan lahan pertaniannya agar tetap berproduktif, dengan cara pengolahan tanah yang tepat dan bijaksana. Dalam hal ini mengembalikan fungsi tanah agar tanah tetap subur dan mengandung keseimbangan hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Fungsi tanah disini yang dimaksud adalah : kualitas tanah, air dan lingkungan yang tetap terjaga dan seimbang.

Dari hasil pengamatan ku dalam “Presentasi dan Sosialisasi” selama ini memang sebagian besar para petani masih menggunakan tata laksana bertani secara tradisional. Di Kabupaten Karawang para petani dalam pengelolaan tanahnya sudah menggunakan peralatan modern seperti traktor untuk membajak sawahnya dan tata laksana bertani nya memang sudah memperlihatkan sistem yang baik. Akan tetapi yang masih menjadi kendala adalah dalam TATA CARA PEMBERIAN PUPUK dan dalam menangani masalah HAMA DAN PENYAKIT karena PEMBENAHAN TANAH DIABAIKAN. Ini berlaku hampir sebagian besar perilaku para petani disana. Padahal bila pembenahan tanah di abaikan ini akan ber”korelasi” dengan “mudahnya tanaman terserang hama dan penyakit dan juga dalam hal pemberian pupuknya akan semakin meningkat karena kecenderungan tanah semakin jenuh”.

Ini dilupakan oleh para petani, mereka terus menerus memberikan pupuk secara berlebihan. Padahal kondisi tanah saat sekarang sudah tidak dapat menerimanya alias JENUH itu tadi.

Dalam prinsip mereka yang penting pemberian pupuk yang menurut takaran mereka mencukupi padahal sudah melampaui batas yang ditentukan akan dapat menghasilkan produksi yang meningkat. Tetapi pada kenyataannya tidak lah demikian. Yang akan terjadi adalah ; “semakin besar penggunaan pupuk dengan tidak bijaksana bukan akan menambah produksi, melainkan akan menjadikan tanaman padi tidak berkembang atau tumbuh dengan tidak baik”.

Sebagai contoh:

Tanaman padi bila kelebihan unsur Nitrogen tanamannya akan rebah dan ini akan mempengaruhi asimilasinya sehingga pengisian gabah tidak akan terjadi, karena tanaman padi saling bertindihan yang menyebabkan saling menutupi daun satu dengan yang lain.dan menghalangi sinar matahari untuk proses asimilasinya di tanaman padi tersebut.

Seperti yang telah aku tuliskan di atas bahwa sebagian besar perilaku petani demikian, tetapi ada sebagian petani lain di wilayah Kecamatan Ciranggon yang dengan suka rela dapat menerima masukan2 yang positif demi kelanjutan proses produksi lahan pertanian mereka. Bila mereka dapat dengan cerdas dan bijaksana dalam menggunakan pupuk maupun pengolahan tanah-nya bukan hanya 1 keuntungan yang akan di dapatnya tetapi 2 bahkan 3 keuntungan akan diraihnya dalam satu kali musim tanam.Yaitu

1. Hemat biaya produksi, karena penggunaan pupuk tidak melebihi dosis.

2. Produksi dapat meningkat karena pelaksanaan tata laksana penanaman padi,
mulai dari pengolahan tanah sampai masalah panen dilakukan dengan baik dan
benar.

3. Menjadi ramah lingkungan , karena dapat melakukan daur ulang sisa limbah

pertanian dapat dimanfaatkan untuk pengolahan tanah yaitu penggunaan pupuk
kompos dalam lahan pertaniannya menjadikan lahan mereka dapat sehat dan
subur kembali dan dapat menjadikan warisan bagi generasi berikutnya.

Untuk sementara baru ini yang dapat aku ceritakan , lain waktu akan ada cerita yang lain yaitu tentang profil petani yang kreatif dalam membuat pupuk organik sendiri.

Disini akan saya perlihatkan gambar tentang proses penanaman padi dari awal pengolahan tanah dengan menggunakan pupuk organik( pupuk kompos ) dan  Decomposer BSA sampai dengan pemupukan menggunakan Pupuk Organik Cair BSA, dilahan Sang Hyang Sri Kecamatan Sukamandi  Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Berikut gambar proses penanaman padi :

1. Pengolahan tanah dengan menggunakan pupuk organik dan  Decomposer BSA

2. Penanaman benih dengan cara Bardur (Tebar Tandur)

3. Penyemptotan menggunakan pupuk POC BSA pada padi umur 20 hari setelah tanam (hst)

4. Penyemptotan menggunakan pupuk POC BSA pada padi umur 45 hst.

5. Gambar sosialisasi dengan para petani

Entry filed under: Cerita Saya. Tags: .

PUPUK KOMPOS INSEKTISIDA ALAMI ATAU PESTISIDA NABATI

2 Comments Add your own

  • 1. Nugroho adi w  |  May 27, 2009 at 11:58 am

    Salut,untuk perjuangannya mbak,saya paham karena juga menjadi pengalaman saya sebagai tenaga lapang pertanian sekaligus petani yang tiap hari menghadapi mayoritas petani kita yg masih tradisional.Kadang sulit.Tapi moga sukses.Nugroho jember

    Reply
  • 2. luki2blog  |  May 28, 2009 at 4:44 am

    Terima kasih pak nugroho…. sukses juga untuk bapak di jember.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


May 2008
M T W T F S S
    Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d bloggers like this: